Ārya Mañjuśrī Dhyāna Nāma Mahāyāna Sūtra

View previous topic View next topic Go down

Ārya Mañjuśrī Dhyāna Nāma Mahāyāna Sūtra

Post by Admin on Sun Sep 17, 2017 11:38 am



Arti Mahayana

Ārya Mañjuśrī Dhyāna Nāma Mahāyāna Sūtra

Demikianlah telah kudengar, pada satu waktu, sang Bhagavan sedang tinggal berdiam di taman Anāthapindada, hutan jeta, śrāvasti, bersama dengan jumlah besar Bhiksu samgha sebanyak delapan ribu Bhiksu. Para Sthavira Mahāśrāvaka Sāriputra, Mahā Maudgalyāyana, Mahā Kāśyapa, Mahā Kātyāyana, dan seterusnya memimpin perkumpulan majelis. Juga hadir enam belas Bodhisattva Mahāsattva beserta seribu Bodhisattva dari Bhadrakalpa yang dipimpin oleh Maitreya. Juga hadir seribu dua ratus Bodhisattva dari penjuru lainnya yang dipimpin oleh Avalokiteśvara.

Pada saat itu, sang Bhagavan, di waktu terakhir dari malam hari, memasuki samadhi yang bernama Cahaya Penuh (sakalaprabhā nāma samādhim). Setelah memasuki samadhi ini, seluruh tubuh-Nya memancarkan cahaya emas. Cahaya itu secara luas dan hebat menyinari hutan jeta yang menjadi sepenuhnya keemasan. Memancar keluar dengan putaran yang halus, itu menyinari tempat kediaman Mañjuśrī dan berubah menjadi menara emas tujuh tingkat. Di setiap tingkat itu ada lima ratus perwujudan para Buddha yang bermunculan di dalamnya. Kemudian di depan tempat kediaman Mañjuśrī, lima ratus bunga teratai yang terbuat dari tujuh permata berharga tercipta secara spontan, yang bundarannya sama seperti roda kereta, tangkainya terbuat dari perak, daunnya terbuat dari emas, mahkotanya terbuat dari musāragalva dan asmagarbha, dan benang sarinya terbuat dari permata mani yang beraneka warna (nānārangairmaniratna). Cahaya dari bunga teratai itu menyinari tempat kediaman sang Buddha, lalu meninggalkan tempat itu dan masuk kembali ke dalam tempat kediaman Mañjuśrī.

Pada saat itu, ada Bodhisattva Mahāsattva yang bernama Bhadrapāla di dalam perkumpulan majelis itu. Ketika tanda-tanda keberuntungan ini muncul, Bhadrapāla pergi meninggalkan tempat tinggalnya dan memuja tempat kediaman sang Buddha. Tiba di tempat kediaman Ānanda, dia berkata kepada Ānanda : "Anda harusnya mengetahui waktu apa ini. Malam ini, sang Bhagavan telah mewujudkan tanda-tanda dari kekuatan batin-Nya. Demi keuntungan para makhluk hidup, Dia akan mengkhotbahkan Saddharma. Bunyikanlah lonceng !"

Kemudian Ānanda menjawab : "Mahāsattva, sekarang sang Bhagavan sedang dalam meditasi yang mendalam. Saya masih belum menerima perintah-Nya; Bagaimana Saya bisa memanggil perkumpulan majelis?"

Ketika Ānanda mengucapkan kata-kata ini, Sāriputra muncul di hadapan Ānanda dan berkata : "Dharmaputra, sudah waktunya untuk memanggil perkumpulan majelis!"

Kemudian Ānanda memasuki tempat kediaman sang Buddha dan memuja sang Buddha. Sebelum dia menaikkan kepalanya, datang suara dari langit berkata kepada Ānanda : "Cepat panggil Bhiksu-samgha !"

Setelah mendengar ini, Ānanda sangat berbahagiah. Dia membunyikan lonceng dan memanggil perkumpulan majelis. Dan bunyi itu menembus meliputi negara śrāvasti dan bisa terdengar hingga puncak keberadaan. Para śakra, brahma, dan caturmahārāja bersama dengan devaputra yang tidak terhitung jumlahnya datang membawa bunga dan dupa surga menuju jetavana.

Pada saat itu, sang Bhagavan bangkit dari samadhi-Nya dan tersenyum. Cahaya lima warna muncul dari mulut sang Buddha. Ketika cahaya itu muncul, kediaman hutan jeta berubah menjadi Vaidūrya. Kemudian  Mañjuśrī, sang Dharmarājaputra masuk ke dalam tempat tinggal sang Buddha dan memuja sang Buddha. Ketika Mañjuśrī beranjali dihadapan sang Buddha, sepuluh ujung jarinya dan telapak tangannya memancarkan sepuluh ribu bunga teratai emas yang dia taburkan menyebar di atas sang Buddha. Itu berubah menjadi kanopi besar yang terbuat dari tujuh permata, yang menggantungkan berbagai panji-bendera. Para Buddha dan Bodhisattva yang tidak terhitung dari sepuluh penjuru arah menyatakan wujud di dalam kanopi itu, berputar mengelilingi sang Buddha tujuh kali, kemudian mundur dan berdiri di satu sisi.

Pada saat itu, Bhadrapāla bangkit dari tempat duduknya, mengatur jubah bagian atasnya di satu bahu, menempatkan lutut kanannya ke tanah, menggabungkan tangan-Nya bersama-sama beranjali kearah sang Bhagavān, dan berkata kepada sang Bhagavāta : "Bhagavan, dari waktu yang lama, Mañjuśrī, sang putra dari Raja Dharma ini telah dekat dengan seratus ribu Buddha, tinggal berdiam di Saha lokadhātu ini melakukan perbuatan Buddha, dan menampilkan wujud secara spontan di seluruh sepuluh penjuru arah. Di masa depan yang jauh, akankah Dia mencapai Parinirvāna?"

Sang Buddha berkata kepada Bhadrapāla : "Mañjuśrī ini memiliki Mahā-karunā, Dia lahir di negara ini, di desa Uttara, di dalam keluarga Brahmana yang berkebajikan. Ketika Dia lahir, bagian dalam rumah-Nya berubah wujud menjadi bunga teratai. Dia muncul keluar dari sisi kanan Ibu-Nya, dan tubuh-Nya berwarna emas ungu. Ketika turun ke lantai, Dia bisa berbicara, sama seperti Devaputra, dan kanopi yang terbuat dari tujuh permata menutupi kepala-Nya. Dia mengunjungi banyak Resi untuk mencari ajaran tentang meninggalkan kehidupan rumah tangga, namun para Brahmana itu dan sembilan puluh lima jenis ahli kitab tidak mampu menjawab. Hanya mengikuti Saya Dia bisa meninggalkan kehidupan rumah tangga dan mempelajari sang jalan (mārga). Dia tinggal berdiam di dalam Śūramgama Samādhi. Melalui kekuatan dari Samādhi ini, Dia mewujudkan Diri-Nya di dalam sepuluh penjuru arah, menjadi dilahirkan, meninggalkan kehidupan rumah tangga, mencapai pembebasan, dan memasuki Parinirvāna. Dia mewujudkan pembagian dari Śarīra-Nya demi menguntungkan para makhluk hidup. Dengan melakukan begitu, sang Mahāsattva telah lama tinggal berdiam di dalam Śūramgama Samādhi.

Empat ratus lima puluh tahun setelah Parinirvāna sang Buddha, Dia akan tiba di pegunungan salju (himavatparvata) dan secara luas mengumumkan dua belas kategori ajaran (Sutra, Geya, Vyakarana, Gatha, Udana, Nidana, Avadana, Itivuttaka, Jataka, Vaipulya, Adbhuta-dharma, Upadesa) kepada lima ratus Resi. Dia akan mengubah dan mematangkan lima ratus Resi itu, menyebabkan mereka mencapai Avaivartika. Bersama dengan para Resi itu, Dia akan mewujudkan rupa Bhikshu dan terbang di udara hingga sampai ke tempat kelahiran-Nya. Di sana, di rawa yang sunyi, duduk dengan kaki bersila di bawah pohon nigrodha, Dia akan memasuki Śūramgama Samādhi. Disebabkan oleh kekuatan dari Samādhi ini, semua pori-pori dari tubuh-Nya akan memancarkan cahaya emas. Cahaya itu akan bersinar luas di seluruh sepuluh penjuru arah, menyelamatkan mereka yang dengan hubungan karma. Semua Resi itu akan melihat api yang memancar dari pori-pori tubuh-Nya. Pada saat itu, tubuh Mañjuśrī akan seperti gunung emas murni, yang mencapai ketinggian enam belas yojana. Dia akan dihiasi dengan lingkaran cahaya yang sejajar di semua sisi. Di dalam lingkaran cahaya itu ada lima ratus perwujudan Buddha. Masing-masing perwujudan Buddha itu memiliki lima perwujudan Bodhisattva yang melayani sebagai pembantu. Hiasan kepala Mañjuśrī akan diperindah dengan permata yang dipakai oleh Śakra. Itu memiliki lima ratus jenis warna, dan di masing-masing warna itu ada matahari, bulan, bintang-bintang, dan istana para devā dan nāga. Semua yang para orang di dunia rindu melihat akan muncul di dalam itu. Diantara alis mata-Nya, akan ada lingkaran rambut putih yang melingkar ke kanan. Perwujudan para Buddha keluar dari itu dan memasuki jaring cahaya. Seluruh tubuh Mereka bersinar, dengan nyala api mengikuti satu demi satu. Di dalam masing-masing nyala api itu ada lima permata Mani, dan setiap permata Mani itu memiliki cahaya yang berbeda, dengan masing-masing warna berbeda yang istimewa. Di tengah-tengah jumlah besar warna itu ada perwujudan para Buddha dan Bodhisattva yang tidak bisa dibayangkan sepenuhnya. Di tangan kanan-Nya, [Mañjuśrī] memegang Pindapatra (mangkuk derma) dan di tangan kiri-Nya mengangkat Mahāyāna Sūttra.


Admin
Admin

Posts : 82
Join date : 2017-06-03

View user profile http://buddhaksetra.forumotion.asia

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top


 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum